Thursday, 11 October 2012

MAKALAH KELAINAN KOGENITAL VAGINA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Vagina menghubungkan genitalia eksterna dgn genitalia interna. Introitus vagina tertutup pada hymen (selaput dara), suatu lipatan selaput setempat. Pada seorang virgo selaput daranya masih utuh, dan lubang selaput dara umumnya hanya dpt dilalui oleh jari kelingking. Pada koitus pertama hymen robek di beberapa tempat dan sisanya dinamakan katunkulae mittiformes. Besarnya lubang himen tidak menentukan apakah wanita tersebut masih virgo atau tidak. Vagina berukuran di depan 6,5 cm dan di belakang 9,5 cm, sumbunya berjalan kira-kira sejajar dengan arah pinggir bawah simfisis ke promotorium. Arah ini penting diketahui jika memasukkan jari ke dalam vagina pada pemeriksaan ginekologik.
Pada pertumbuhan janin dalam uterus 2/3 bagian atas vagina berasal dari duktus inulleri (asal dari entoderm), sedangkan 1/3 bagian bawahnya dari lipatan-lipatan ektorderm. Hal ini penting diketahui dalam menghadapi kelainan-kelainan bawaan.
Kelainan kongenital atau bawaan yang berupa tidak adanya sama sekali vagina atau sebagian (agenesis vagina) tentu akan menimbulkan masalah bagi penderita dari salah satu dari tiga hal tersebut di atas, terutama memberikan keluhan tidak dapat melakukan hubungan seksual dan jalan keluar darah haid. Kelainan kongenital yang sangat berat adalah tidak adanya vagina sama sekali.
Penderita yang mengalami agenesis vagina frekuensinya tidak begitu banyak, yaitu 1 dalam 4000 kelahiran, 1 dalam 4000 sampai 10.000 kelahiran (ACOG). Sedangkan di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta sejak tahun 1995 sampai 1999, rata-rata 10-12 kasus pertahun telah mengalami rekonstruksi pembuatan vagina baru untuk kasus dengan kelainan kengenital (Rokintansky Hauser syndrome) dan beberapa penderita kelainan kengenital tidak memerlukan tindakan pembedahan untuk pembuatan vagina baru. Kelainan kengenital merupakan penyebab kedua terbanyak pada kasus-kasus amenorhoe primer setelah disgenesis gonad.
Tindakan yang tepat serta motivasi yang cermat dari para dokter untuk menetukan bentuk dan saat terapi yang diberikan pada penderita dan keluarganya sangat penting dalam usaha pencapaian keberhasilan pengobatan yang diberikan.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan Septum Vagina?
2.      Apa yang dimaksud dengan Aplasia dan Atresia Vagina?
3.      Apa yang dimaksud dengan Kista Vagina?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan malasah di atas adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian Septum Vagina.
2.      Untuk mengetahui pengertian Aplasia dan Atresia Vagina.
3.      Untuk mengetahui pengertian Kista Vagina.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Septum Vagina
Septum Vagina adalah sekat sagital di vagina dapat ditemukan di bagian atas vagina. Septum vagina dapat dalam bentuk septum yang longitudinal atau vertikal. Septum longitudinal dapat terjadi sepanjang vagina sehingga dapat menghalangi jalannya persalinan. Septum vagina yang vertikal dapat menghalangi penurunan dan kesulitan menilai pembukaan. Bila kepala sudah turun mencapai hodge III, septum vertikal dapat digunting sehingga persalinan berlangsung dengan aman.
Sekat sagital di vagina dapat ditemukan di bagian atas vagina. Tidak jarang hal ini ditemukan dengan kelainan pada uterus, oleh karena ada gangguan dalam fusi atau kanalisasi kedua duktus mulleri. Pada umumnya kelainan ini tidak menimbulkan keluhan pada yang bersangkutan, dan baru ditemukan pada pemeriksaan ginekologik. Darah haid juga keluar secara normal. Pada persalinan septum tersebut dapat robek spontan atau perlu disayat dan diikat. Tindakan tersebut dilakukan pula bila ada dispareuni.
Septum vagina akibat gangguan fusi atau kanalisasi kedua duktus muleri Pada persalinan dapat robek atau perlu diguntung dan diikat bila berdarah Aplasia dan atresia vagina Duktus muler berfusi tapi tidak membentuk kanal.teraba sebagai jaringan yang tebal saja.tidak ada vagina, pada lubang masuk seperti cekungan saja.
Atresia vulva dalam bentuk atresia himenalis yang menyebabkan hematokolpos, hematometra dan atresia vagina dapat menghalangi konsepsi. Kelainan vagina yang cukup sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan adalah septum vagina terutama vertika longitudinal.
Septum yang lengkap sangat jarang menyebabkan distosia karena separoh vagina yang harus dilewati oleh janin biasanya cukup melebar sewaktu kepala lahir. Akan tetapi septum yang tidak lengkap kadang-kadang menghambat turunnya kepala. Struktur vagina yang kongenital biasanya tidak menghalangi turunnya kepala, akan tetapi yang disebabkan oleh perut akibat perlukaan dapat menyebabkan distosia.

·         Etiologi
Septum vagina tidak jarang hal ini ditemukan dengan kelainan pada uterus, oleh karena ada gangguan dalam fusi atau kanalisasi kedua duktus mulleri.

·         Tindakan
Cara yang efektif untuk tindakan persalinan septum tersebut adalah dengan robekan spontan atau di sayat dan diikat. Tindakan ini dilakukan pula bila ada dispareuni.

·         Penatalaksanaan
Sikap bidan dalam menghadapi kelainan ini, adalah menegakkan kemungkinan septum vagina, vertikal atau longitudinal pada waktu melakukan pemeriksaan dalam dan selanjutnya merujuk penderita untuk mendapat pertolongan persalinan sebagaimana mestinya.

B.     Aplasia dan Atesia Vagina
Pada aplasia vaginae kedua duktus mulleri mengadakan fusi, akan tetapi tidak berkembang dan tidak mengadakan kanalisasi, sehingga bila diraba hanya ditemukan jaringan yang tebal saja. Pada aplasia vagina tidak ada vagina, dan ditempatnya intruitus vaginae hanya terdapat cekungan yang dangkal atau yang akan dalam.
Disini therapynya adalah : Pembuatan vagina baru.
Vagina menghubungkan genetalia ekterna dengan genetalia interna.Introitus vagina tertutup pada hymen atau selaput darah,suatu lipatan selaput setempat.Pada seorang virgo selaput darahnya masih utuh,dan lubang selaput darah umumnya hanya dapat dilalui oleh jari kelingking.Pada koitus pertama hymen robek di beberapa tempat dan sisanya di namakan katunkulae mittiformes.Besarnya lubang hymen tidak menentukan apakah wanita tersebut masih virgo atau tidak.
Vagina berukuran di depan 6,5 cm dan dibelakang 9,5cm.Sumbunya berjalan kira kira sejajar dengan arah pinggir bawah simpisis ke promontorium.Arah ini penting diketahui.jika memasukkan jari kedalam vagina pada pemeriksaan ginekologi.Pada pertumbuhan janin dalam uterus 2/3bagian atas vagina beralas dari duktus inuller (asal dari entroderm) sedangkan 1/3 bagian bawahnya dari limparan limparan ektorderm.Hal ini penting diketahui dalam menghadapi kelainan kelainan bawaan.
 Pada aplasia vagina kedua duktus mulleri mengadakan fusi,akan tetapi tidak berkembang dan tidak mengadakan kanalisasi,sehingga bila diraba hanya ditemukan jaringan yang tebal saja.Pada umumnya bila di jumpai aplasia vagina ,maka sering pula ditemukan uterus yang rudimenter.Ovarium dapat pula menunjukkan hipoplasi atau menjadi polikistik.
Pada aplasia vagina tidak ada vagina, dan di tempatnya introitus vagina hanya terdapat cekungan yang dangkal atau yang agak dalam .
Disini terapi terdiri atas pembuatan vagina baru beberapa metoda telah dikembangkan untuk keperluan itu. Operasi ini sebaiknya pada saat wanita yang bersanmgkutan akan menikah.Dengan demikian vagina baru dapat digunakan dan dapat dicegah bahwa vagina buatan akan menyempit.
Pada atresia vagina terdapat gangguan dalam kanalisasi sehingga terbentuk suatu septum yang horizontal. Septum itu dapat ditemukan pada bagian proksimal vagina,akan tetapi bias juga pada bagian bawah, diatas hymen (atresia retrohymenalis).
Bila penutupan vagina itu menyeluruh, menstruasi timbul tetapi darah haid tidak keluar .Terjadilah hematokolpos yang dapat mengakibatkan hematometra dan hematotalpinks.Penanganan hematokolpos sudah dibahas dalam pembicaraan tentang atresia hymennalis.

·         Penatalaksanaan
Operasi pembuatan vagina baru ini sebaiknya pada saat wanita yang bersangkutan akan menikah. Dengan demikian vagina baru dapat digunakan dan dapat dicegah bahwa vagina buatan akan menyempit.
Pada attresia vaginae terdapat gangguan dalam kanalisasi : sehingga terbentuk suatu septum yang horisontal. Septum itu dapat ditemukan pada bagian proksimal vagina, akan tetapi bisa juga pada bagian bawah, diatas himen. Bila penutupan vagina itu menyeluruh, mensturasi timbul terapi vagina tidak menyeluruh, tidak akan timbul kesulitan.

C.    Kista Vagina
Kista adalah tumor jinak di organ reproduksi perempuan yang paling sering ditemui. Bentuknya kistik, berisi cairan kental, dan ada pula yang berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara, cairan, nanah, ataupun bahan-bahan lainnya.
Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus selaput semacam
jaringan. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Itulah sebabnya tumor jinak relatif mudah diangkat dengan jalan pembedahan, dan tidak membahayakan kesehatan penderitanya.
Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi dua, yaitu non-neoplastik dan neoplastik. Kista non-neoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan sifatnya.
Selain pada ovarium kista juga dapat tumbuh di vagina dan di daerah vulva (bagian luar alat kelamin perempuan). Kista yang tumbuh di daerah vagina, antara lain inklusi, duktus gartner, endometriosis, dan adenosis. Sedangkan kista yang tumbuh di daerah vulva, antara lain pada kelenjar bartholini, kelenjar sebasea serta inklusi epidermal.
Kista di vagina bisa mempersempit lubang vagina yang akhirnya akan menghambat persalinan. Bahkan jika bentuknya besar, bisa menghalangi hubungan intim dan akibatnya malah tak bisa hamil. Karenanya, jika ibu menemukan kista di vaginanya, harus segera dioperasi agar bisa hamil. Bila setelah hamil dijumpai ada kista, harus dilakukan operasi ketika usia kehamilan masih muda, sekitar 3-4 bulan. Jika sudah telanjur, harus dilakukan operasi sesar.
Kista vagina biasanya kecil berasal dari duktus gartner atau duktus mulerri .Letaknya lateral dalam vagina bagian proksimal, ditengah atau distal dibawah orifisium uretra externum. Kista berisi cairan jernih dan dindingnya ada yang sangat tipis, dan ada pula yang agak tebal. Wanita tidak mengalami kesulitan waktu persetubuhan dan persalinan. Jarang sekali kista ini sedemikian besarnya,sehingga menghambat turunnya kepala dan perlu difungsi atau pecah akibat tekanan kepala.
Adakalanya pada kista terjadi peradangan ,bahkan dapat pula terjadi abses. Biasanya abses pecah sepontan bila sudah besar. Apabila tidak perlu dilakukan insisi.
Terapi kista vagina pada umumnya tergantung pada besarnya ,tempatnya,dan saat di temukannya.
Kista kecil yang tidak melebihi buah duku biasanya tidak diketahui oleh penderita dan ini tidak perlu di apa apakan .Akan tetapi kista yang besar dan di sadari oleh penderita lebih lebih apabila disertai keluhan,sebaiknya di angkat,saat yang paling baik untuk pembedahan ialah diluar kehamilan.Dalam kehamilan tua atau apabila kista baru pertama kali diketahui sewaktu wanita dalam persalinan sikap konservatif lebih baik marsupialisasi dan dilakukan kira kira tiga bulan setelah bayi lahir

·         Patofisiologi
Tumor ini berasal dari epitel permukaan ovarium invaginasi yang sederhana dari epitel germinal sampai ke invaginasi disertai permukaan ruangan kista yang luas terjadi pembentukan papil-papil kearah dalam tumor kistik.

·         Etiologi
Faktor yang menyebabkan gajala kista meliputi;
1.      Gaya hidup tidak sehat. Diantaranya;
a.       Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
b.      Zat tambahan pada makanan
c.       Kurang olah raga
d.      Merokok dan konsumsi alcohol
e.       Terpapar denga polusi dan agen infeksius
f.       Sering stress
2.      Faktor genetic.
Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen , polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

·         Tindakan
Cara yang paling efektif untuk mengatasi kista yaitu:
1.      Dengan mengangkat kista melalui operasi. Namun, tindakan pengobatan tersebut hingga kini belum memberikan hasil yang memuaskan. Tindakan operasi pengangkatan kista tidak menjamin kista tidak akan tumbuh kembali nantinya. Selama seorang wanita masih memproduksi sel telur, maka potensi untuk tumbuh kista akan tetap ada. Namun, dengan meningkatnya pengetahuan serta kesadaran kaum wanita saat ini untuk memeriksakan organ reproduksinya merupakan langkah awal yang tepat untuk mengurangi risiko terjadinya kista.
2.      Mengatasi Kista dengan Laparoskopi
Laparoskopi merupakan teknik pembedahan atau operasi yang dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil (berdiameter 5-10 milimeter) di sekitar perut pasien. Satu lubang pada pusar digunakan untuk memasukkan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor, sementara dua lubang yang lain untuk peralatan bedah yang lain.

·         Tanda dan Gejala
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulakan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat berfariasi dan tidak spesifik.
Pada stadium awal gejalanya dapat berupa;
·         Gangguan haid
·         Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih.
·         Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan dan sakit diperut.
·         Nyeri saat bersenggama.

·         Penatalaksanaan
Penderita kanker ovarium stadium dini dapat ditangani dengan operasi yang kemudian dilanjutkan dengan terapi. Bila kanker ovarium telah memasuki stadium lanjut baru di lakukan kemoterapi atau radiasi.

·         Bagaimana Hubungannya Pada Janin
Kista yang besar bisa menimbulkan kelainan letak janin dalam kandungan, atau menghalangi turunnya kepala di jalan lahir pada waktu persalinan. Oleh karena itu bila ditemukan kista permanen yang besar, maka perlu tindakan pembedahan pada kehamilan sekitar 18 minggu. Bila kista yang besar tersebut tidak menghalangi jalan lahir atau tidak menimbulkan gejala sakit, operasi dapat dilakukan 3 bulan setelah ibu melahirkan. Jadi, tindakan yang diambil dokter sangat ditentukan oleh jenis kista, ukuran dan letaknya di jalan lahir serta keluhan dari ibu hamil itu sendiri.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kelainan kongenital berupa gangguan dalam organogenesis pada vagina dapat mempengaruhi kehamilan dan persalinan. Oleh sebab itu sebaiknya kelainan atau gangguan-gangguan ini harus dihindari dan dicegah sedini mungkin agar dalam menanganinya dapat dengan mudah.
1.      Septum Vagina adalah sekat sagital di vagina dapat ditemukan di bagian atas vagina. Septum vagina dapat dalam bentuk septum yang longitudinal atau vertical. Septum longitudinal dapat terjadi pada vagina sehingga dapat menghalangi jalannya persalinan.
2.      Kista adalah tumor jinak di organ reproduksi perempuan yang paling sering ditemui. Bentuknya kistik, berisi cairan kental, dan ada pula yang berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara, cairan, nanah, ataupun bahan-bahan lainnya.
3.      Pada aplasia vaginae kedua duktus mulleri mengadakan fusi, akan tetapi tidak berkembang dan tidak mengadakan kanalisasi, sehingga bila diraba hanya ditemukan jaringan yang tebal saja. Pada aplasia vagina tidak ada vagina, dan ditempatnya intruitus vaginae hanya terdapat cekungan yang dangkal atau yang akan dalam.
4.      Pada atresia vagina terdapat gangguan dalam kanalisasi sehingga terbentuk suatu septum yang horizontal. Septum itu dapat ditemukan pada bagian proksimal vagina,akan tetapi bias juga pada bagian bawah, diatas hymen (atresia retrohymenalis).

B.     Saran
Berdasarkan simpulan dari isi makalah ini jika terdapat kekurangan dalam hal penyajian makalah ini dan dalam hal penyusunan kata-kata yang kurang efektif penulis mohon kritik dan saran yang berguna bagi penulisan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa. Dkk., 2002. Ilmu Kandungan. Edisi Ketiga Cetakan. Keempat. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Adhe. 2009. Kelainan Kongenital Berupa Gangguan Pada Septum Vagina, Aplasia Dan Atresia Vagina, Kista Vagina. Diakses tanggal 12 September 2012 http://adhe-anwaradhe.blogspot.com

Juniati. E. 2010. Kelainan Pada Sistem Reproduksi & Penanggulangannya. Banjarmasin: Akbid Sari Mulia. Diakses tanggal 12 September 2012 http://alimahimai.blogspot.com

Oktavarida. W. 2010. Kelainan Kongenital Berupa Gangguan Dalam Kelainan Kongenital Berupa Gangguan Dalam Organogenesis Dari System Reproduksi Pada Janin Yang Genetik Normal. Diakses tanggal 12 September 2012 http://witaoktavrida.blogspot.com